BILA PELAYARANKU SAMPAI
Ketika telah sampai di pantai. Matamu jadi sampan,
Menyimpan sobekan layar. Kau sulap batang bakau
Jadi kemudi, dan kau biarkan aku merasa di tepi pantai ini.
Tak mungkin akan kembali setelah kecewa mengenang putranya.
Serupa aku kini yang tak ingin mengingat betapa jauh perjalanan
Telah kulintasi. Kau lihat, kedua telapak kakiku pecah-pecah,
Tak lagi bisa menulis silsilah
Ombak dulu juga yang menghapus segala sejarah.
Kenangan-kenangan tak bertanda, tanda-tanda yang tak terbaca.
Serupa buku tanpa lagi punya halaman.
Kita telah berada di tepi pantai.
Rambutmu jadi nyiur, wajahmu menyimpan angin.
Ombak menanti kita berlayar di tubuhnya.
Menggapai gemuruh,memeluk pulau-pulau-Nya.
Sebab, di laut ini aku jadi imam bagimu.
Menegakkan hati setiap ombak menyapa.
Dan sobekan layar jadi sajadah berwaktu-waktu kita sujud.
Meniupkan takbir kita telah sampai. Jangan lupa melayari ruh.
Sampan yang menjelma dari matamu membelah rahasia.
Dimana mesti kupulangkan makananini,
Sebab mihrab milik Imran tinggal kenangan?
“Di mana pun kau melangkah, disitu mihrab kepunyaan-Nya,”
Katamu. Dari wajahmu, angin melajukan sampan. Kulintasi pulau demi pulau. . .
“O, bila pelayaranku ini sampai?”
Aku kehilangan tanya
Home > Puisi Cinta > BILA PELAYARANKU SAMPAI

{ 0 comments... read them below if any or add one }
Post a Comment